domain gratis! mau?

Telusuri Coretanku

08 Mei 2009

Akhirnya Nama Untuk Babyku Adalah:

Ternyata membuat nama untuk babyku tak semudah membuat nama judul blog ya? Banyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan, dari pertimbangan memilih kata yang indah sampai kata yang mengandung makna yang dalam atau pun kata yang mengandung doa, terlebih yang spesial supaya namanya unik, itu kalau bisa sih...dari pertimbangan unik itu, aku malah jadi bingung sendiri sebab sepertinya semua nama sudah banyak yang menggunakan. Aku mencoba membaca beberapa pustaka nama-nama baby, dari melihat internet, melihat kamus sampai pinjam buku teman. Akhirnya di kamus saya menemukan kata yang menurut saya menarik dan sederhana serta mudah diucapkan yaitu NABIHA. Ada beberapa makna dari beberapa sumber yaitu NABIHA yang berarti: terjaga dari tidurnya, termasyhur, cerdas, cerdik. Dari beberapa makna tadi saya lebih memahaminya sebagai orang yang berhati-hati. Kayaknya ini boleh dijadikan nama untuk babyku sebagai sebuah harapan agar ia berhati-hati dalam menjalani hidup. Kemudian selanjutnya aku dan suami mencari nama yang kedua, akhirnya menemukan nama yang agak unik lagi yaitu HUWAIDA yang bermakna lemah lembut. Jadi gabungan dari dua kata tadi yaitu NABIHA HUWAIDA yaitu berhati-hati dan lemah lembut. Harapan kami (aku+suami) agar baby menjadi orang yang berhati-hati dalam menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan namun ketika ia mendapatkan cobaan yang berat dan penuh emosional, dia harus tetap tabah dan tetap selalu menunjukkan sikap yang tenang dan lemah lembut.

03 Mei 2009

Menanam Ari-Ari (Plasenta)

Setelah operasi selesai dan babyku telah di alam dunia, tiba saatnya untuk menanam plasenta(istilah jawanya adi ari-ari). Nah kalau ini tugas dari suami saya karena saya pasca operasi pastilah tergolek lemah tak berdaya sehingga pada hari minggu paginya, 18 April, suami saya pulang ke rumah untuk menanam ari-ari yang lubangnya sudah di buat duluan yaitu ditaruh di teras rumah, maklum rumah kami kecil type RSSS (rumah sangat sulit selonjor) jadi ya nggak ada tanah kosong untuk berkebun apalagi untuk menanam padi, jadi terpaksa ditanam di teras. Ketika sedang menggali lubang sih saya melihat langsung suami saya melakukan pekerjaan tersebut dengan susah payah, maklum, untuk menggali lubang harus memecah keramik setelah itu harus memecah cor-coran di bawahnya, baru kemudian menggali tanah. Kelihatan sekali keringat suamiku bercucuran dan tampak letih...tapi ya gimana lagi, itu memang tugas dan kewajibannya! Aku hanya berdoa semoga hal tersebut dapat menambah pahala baginya,amin...
Malah ngelantur ya, ya udah kembali ke laptop cerita tadi, (ini cerita suamiku ya dan aku nggak melihat langsung) setelah suami mencuci plasenta dengan bersih memakai sabun mandi kemudian plasenta dibungkus dengan kain putih yang dibeli di pasar bersama ibu, kemudian dimasukkan ke dalam kendi kecil dengan disertai beberapa ubo rampe (asesoris) adat jawa seperti: pensil, cermin, minyak wangi, kertas dsb, hal tersebut kata ibu merupakan bentuk dari harapan (tafaul) jadi bukannya melakukan praktek perdukunan. Kemudian semuanya dimasukkan ke dalam lubang lalu di taburi dengan kembang. Oh ya pada tutup kendi pada tengahnya dilubangi untuk menaruh selang kecil yang terhubung ke luar, hal ini mengandung harapan agar baby dapat bernafas dengan lega. Setelah itu semuanya ditimbun dengan tanah, setelah lubang penuh tanah kemudian ditaburi kembang lagi dan selesai. Oh ya hampir lupa, Tanah di atas plasenta kemudian di tutup ember lalu diberi lampu 5 watt. Kayaknya hal itu yang dilakukan suamiku. Dan sekarang setiap pagi oleh ibu disiram air nasi setelah liwet (leri) dan diberi daun dadap.

30 April 2009

Akhirnya Datang Juga

Manusia kecil yang selalu menendang dan meninju di dalam perutku, pada hari Sabtu Legi, 18 April 2009 pukul 15.10 akhirnya datang juga ke dunia. Dengan perantaraan operasi sesar yang tak masuk dalam perkiraan saya, si manusia kecil dikeluarkan dalam perut saya. Operasi ini dilakukan bukan karena saya tak bisa melahirkan dengan normal tetapi dokter mendiagnosa bahwa saya telah kehabisan tenaga sewaktu dipacu dengan obat yang dialirkan lewat infus sehingga untuk lebih menjamin keselamatan saya dan baby maka dianjurkan untuk dioperasi sesar. Pada awalnya diagnosa dari dokter Y menyatakan bahwa baby dalam kondisi sehat dan tak ada kelainan. Pada saat saya sudah merasa akan melahirkan yaiu pada hari Kamis, 16 April 2009 maka saya segera berangkat ke sebuah Rumah Sakit. Lewat bantuan dan informasi Mas Guntur maka saya memilih RS yang direkomendasikan Mas Guntur yaitu RS A. Setelah tiba di tujuan ternyata saya dinyatakan buka 1 sehingga dianjurkan untuk menunggu selama 4 jam untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut. Pada jam 1 siang tenyata tak ada perkembangan yang signifikan sehingga Dokter Y lewat telepon memutuskan untuk dipacu. Menurut suami, saya dipacu hingga jam 10 malam, saya rasakan sakit yang luar biasa hingga saya merasakan putus asa yang sangat besar, kalau ingat tentang hal itu sampai sekarang saya merasa menggigil... Menurut cerita suami saya, pacu dihentikan karena suami saya tak tega melihat ekspresi kesakitan wajah saya dan memaksa dihentikan dan memang kemungkinan saya setengah sadar sehingga tak ada kejadian yang teringat secara jelas, hanya rasa sakitnya masih tersimpan dalam memori! Ternyata pacu hanya menambah buka 1 menjadi buka 2, tak seperti yang diharapkan.
Jam 10 akhirnya pacu yang dilaksanakan di ruang bersalin dihentikan! Bersamaan dengan itu ternyata Dokter Y sakit dan menyerahkan sepenuhnya ke RS A. Kemudian diambil alih oleh Dokter B dan diputuskan untuk dibawa ke kamar inap saja untuk memulihkan tenaga. Lega rasanya dibawa ke kamar inap terlepas dari ruang bersalin (eksekusi)dengan bau obat yang menyengat dipadu hawa dingin dan rasa sakit!, sembari menonton televisi sakitnya berangsur-angsur menurun dan biasa. Pada Jumat siang, 17 April 2009 ternyata bertambah jadi buka 3 hingga malam sabtu jadi buka 4. Pada Sabtu pagi 18 April 2009 jam 08.00 suami dipanggil Dokter B bahwa kondisi saya dan baby pasca pacu ternyata semakin melemah walaupun sudah dibantu dengan infus sehingga untuk menuju buka selanjutnya akan lama. Dan suami saya harus segera memutuskan apakah saya harus di paksa pacu lagi atau operasi sesar, keputusan harus diambil sebelum 13.30 karena Dokter B akan segera pulang ke kota Y. Akhirnya ketakutan dan stresh saya datang kembali karena suami saya meminta saya dipacu, padahal saya sebenarnya sudah tak kuat lagi dan saya segera mohon maaf kepada suami saya jika seandainya takdir saya tak kuat menahan sakit, satu-satunya kekuatan yang tiba-tiba muncul adalah baby harus selamat! Akhirnya saya dipacu kembali, hingga beberapa menit akhirnya pacu dicopot karena tenaga saya terkuras dan dapat menimbulkan efek buruk, kemudian saya dibawa kembali ke kamar inap.
Suami saya kelihatan bingung pada saat itu karena harus memutuskan segera dioperasi sebelum jam 13.30, padahal persediaan uang kami tak dipersiapkan untuk hal itu. Kemudian suami saya pergi untuk mencari saran dari beberapa orang yang sudah berpengalaman, saya sangat khawatir sekali saat itu karena hingga jam 13.20 belum ada kabar berita dari suami saya, bersamaan dengan itu datanglah teman suami yaitu Mbak Syaharani yang memberi saran untuk segera operasi saja karena ia sudah pernah dioperasi yang katanya tak terasa dan hanya beberapa menit saja, untuk pembiayaanya jangan dipikirkan karena baby bawa rejeki sendiri, dengan keyakinan itu akhirnya saya bersemangat untuk meminta operasi. Setelah suami saya tiba, segera saya meminta dia untuk menghubungi dokter bahwa saya siap dioperasi. Dokter B ternyata sudah tak berada di tempat sehingga harus menunggu kedatangannya. Operasi akhirnya mulai dilakukan pada jam 14.30, dan akhirnya si baby dapat lahir dengan selamat pada pukul 15.10 dengan berat badan: 3,4 Kg dan panjang badan: 50 cm.
Ok, cukup disini dulu ya ceritanya, saya sudah capek nih...mohon maklum ya kondisi tubuh saya masih lemah, posting inipun tergolong telat kan...ya udah trims atas membacanya...to be continued...

02 April 2009

Menunggu Junior Lahir

Tak sabar rasanya untuk menunggu datangnya juniorku lahir ke dunia, bukannya sudah bosan mengandung tetapi memang sudah sangat penasaran dan ingin segera bercengkerama dengan juniorku, kalau boleh memilih, saya ingin juniorku lahir ke dunia langsung bisa berjalan dan berbicara...tapi itu tak mungkin karena prosesi kehidupan manusia tak seperti itu, tak seperti anak kucing yang lahir beberapa menit kemudian langsung bisa berjalan dan mengeong. Manusia terlahir dengan tak punya kemampuan apapun kecuali takdir yang digariskan seperti jodoh dan mati dan ini merupakan ladang ibadah bagi orang tuanya, yaitu dengan menerima kewajiban untuk mendidik anaknya hingga menjadi manusia seutuhnya yang kelak dapat membuat Rasullullah tersenyum. Sudah 8 bulan lebih saya menjalani kehidupan dengan berat badan yang membumbung tinggi dari biasanya dan rasanya semakin berat aku melangkahkan kaki karena memang badan ini rasanya berat, tetapi saya wajib menjalaninya dengan senang hati dan bangga karena aku terpilih untuk melahirkan seorang manusia, dan saya yakin Tuhan selalu mendesain kehidupan ini dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Rancangan Tuhan untuk mendesain kehidupan memang sangat indah dan sitematis sekali, dari prosesi awal kehamilan sampai kelahiran merupakan sesuatu yang ajaib dan ilmiah serta mengandung filosofi yang sangat dalam. Bahkan penghargaan Tuhan bagi ketidakmampuan fisik untuk melahirkan saja dihargai dengan surga tanpa syarat!, maksudnya jika serang ibu melahirkan bayinya sehingga dia meninggal, pahalanya adalah Jannah (surga).
Ok, btw mohon maaf malah jadi khotbah sendiri ya...
Kembali ke keadaanku saat ini ya, dalam diagnosa dokter Y melalui bantuan USG, juniorku adalah berkelamin wanita tetapi tak menutup kemungkinan perkiraan tersebut bisa meleset, karena apalah arti kecanggihan sebuah alat buatan manusia dibandingkan teknologi Tuhan. Terbukti dari temanku yang di USG dari bulan awal diagnosa hingga bulan ke-8, terdeteksi berkelamin wanita, ternyata menginjak kelahiran terdeteksi sebagai manusia laki-laki hingga akhirnya keluar dari gua garba sebagai lelaki. Menurut pengakuan temanku, ia memang mendambakan anak seorang pria tetapi jika yang terjadi dikaruniai anak wanita tak menjadi masalah bagi dia dan semua terserah Tuhan seru sekalian alam, tapi ternyata Tuhan mendengar permintaannya dan lahirlah jabang bayi laki-laki yang sehat walafiat tak kurang suatu apa. Ternyata Tuhan dapat merubah apapun dalam waktu seketika!

06 Juni 2006

Hasil Penelusuran